Rabu, 18 November 2009

Sempurna namun lemah

dsc01202

Kilauan pancaran sang surya
Menembus batas penglihatan
Akupun tertegun..
Petapa indah ciptaan-NYA

Disana …..
Hiru pikuk manusia berjalan
Satu tapak salah melangkah
Jadilah makluk yang rendah hina

Kau sempurna
Namun lemah
Sering jiwa tak mampu menahan raga
Akirnya masuk kelobang perangkap dosa

Lihatlah…..!
Petapa besar karunia sang maha pencipta
Meski dosa sering tercipta
Namun hujan karunia-NYA
Tak pernah binasa

Itulah anugrah
Yang diberikan pada makluk-NYA
Masikah kau meraguinya
Sedang AL-QUR ‘AN telah menjelaskanya

Dialah Tuhan penguasa seluruh Alam jagat raya


DALAM SEPIKU

pd1747010_s1

Sepiku …
Membawa imajinasiku
Menerobos
Mengelayut kealam maya
Terdampar dan mengisi satu rasa

Diamku…
Anganpun menerawang
Mengembara tanpa ujung tara
Aku jadi tersenyum sendiri
Inikah ilusi mimpi..?

Sunyi…
Ini bukan mimpi
Mungkin sekedar hayalan
Didalam keterasingan
Oleh raga yang yang kini dalam kesendirian

KEAGUNGANMU

712221605l

Di dalam kasih-Mu……
Kukecap nikmat anugerah-Mu
Meski ku menjauh
Engkau tetap memberikan kemulyaan
Lalu….pantaskah ku berpaling dari-Mu ?

Megah keagungan-Mu
Hadirkan pesona dalam jiwaku
Mengalir kesejukan dalam qalbuku
Karna pemberian-Mu…..
Tanpa batas rumpun!

Besar kuasa-Mu
Mampu menggetarkan ragaku
Akupun merayu
Dengan kata pujianku
Subkhanallah wal khamdulillah
Walaa ilaha illallooh huwallohu akbar

Selasa, 17 November 2009

Aku dan keterasingan ku


Aku yang terpuruk dalam keterasingan
Tak tau jalan mana yang harus ku tempuh
Asa beregam nyawa terbalut dalam selimut kenistaan
Aku yang terpuruk dalam keterasingan diri
Berkelana bersama angin...
Terbang melayang...
Bersama tetesan embun di pagi hari yang bening
Aku yang lemah tak berdaya
Yang terlena dalam nafsu dan amarah
tak tau harus bagaimana
Untuk bisa meraih cita dan cinta.. Yang kini tlah Musnah
Bersama badai
Menyapu...semua Asa dan harapan diri

Senin, 16 November 2009

Serapuh itu kah kita dalam kesendirian?. Dan kita sering mengeluh akan sebuah keterasingan yang mapan (seolah-lah terorganisasi untuk mencampakkan kita dari ikatan-ikatan). SEBENARNYA, masing-masing kita adalah sendiri!, terisolasi dalam pikiran dan ikatan-ikatan masyarakat kita, hanya saja merasa nyaman dengan itu semua.


Kesendirian, keterasingan adalah purbasangka atas pelarian dari lingkungan sosial yang mapan dan tidak kuasa untuk dielakkan. Saat merasa nyaman, kita mengangapnya sebagai sebuah keniscayaan. Akan tetapi efek ikatan-ikatan sosial, paradigma arus utama pada masyarakat sering kali sangat melelahkan untuk ditanggapi dan pada keadaan inilah ia menjadi sebuah kesendirian, keterasingan di keramaian.

Alih-alih menelurkan saran yang konstruktif, kita sendiri yang akan dihantam, tercerabut oleh badai iklan yang tak berperasaan. Dengan semangat kapitalismenya, ia hendak mencengkram dunia, dan siapa yang hendak menolak "kenyamanan hidup?"(Sebuah kejahatan yang sangat lembut, sudah lama dipraktekkan dan tidak banyak yang tahu. Hanya segelintir orang yang peka, gemetar bibirnya, dan menetes air matanya mendengarkan lagu Indonesia Raya dikumandangkan)

Kejahatan-kejahatan ini terus berlanjut, tanpa disadari dari waktu ke waktu karena masing-masing kita tidak mau tahu apalagi ambil bagian. Kita malah ikut merayakan, sadar atau tidak sadar, dan seperti kata-kata terdahulu, kebodohan, ketidaksadaran berasosiasi dengan mabuk dan "haram" hukumnya dalam konteks ini.

Kita menghendaki suatu masyarakat yang sekuler, tidak mencampurkan kehidupan pribadi dan masyarakat yang kita anggap berada pada panjang gelombang yang berbeda, maka tidak bisa di-superposisi-kan (dan ini terbantahkan oleh fisika), apalagi dibandingkan. Kita bisa merasa sangat peka saat melihat penderitaan rakyat akibat gempa, menitikkan air mata, lalu kembali beristirahat di hotel bintang lima. Lalu kita semua, orang-orang mapan lainnya berjanji akan membantu petani, orang miskin (jika terpilih nanti), dan disaat yang sama kita bergelimang harta dan menghambur-hamburkan uang untuk dana kampanye yang aku tegaskan! tak berguna!(memang selalu butuh biaya untuk belajar, katakanlah itu sebuah pembelajaran demokrasi, tapi bukan cara belajar seperti ini yang kita harapkan). Terjadi pemisahan-pemisahan disini. Potongan-potongan waktu, potongan-potongan kejadian yang saling lepas dan diskrit yang kita anggap tidak saling berhubungan satu dengan yang lainnya.

Ini memang contoh sederhana yang tiap hari terlihat, akan tetapi terluput dari perhatian kita yang mungkin telah mendefenisikan kepedulian dengan cara yang sama sekali berbeda (satu bentuk evolusi psikologi masyarakat yang berbahaya). Ada paradoks kompleks pada keadaan seperti ini. Di abad teknologi yang bumi terlihat semakin kecil, jarak semakin pendek, dan dunia semakin datar, akan tetapi manusia semakin terkotak-kotakkan. Manusia-manusia semakin terasingkan padahal berita kemalangan sudah begitu nyaring di telinga kita. Berita ketidakadilan selalu beredar dimana-mana dan Izrail bukanlah tamu yang asing yang "menjemput" banyak saudara kita dengan cara yang seharusnya kita anggap tidak biasa. Pada titik ini bumi tiba-tiba mengembang seperti alam semesta dan seolah-olah setiap manusia terpisah sejauh jarak galaksi yang berbeda dan semakin jauh setiap waktunya. Tangisan anak-anak disana menjadi perhatian kita dan kita merasa inferior untuk melakukan apa-apa. Hanya dalam wacana untuk kepentingan-kepentingan pragmatis (seperti apa yang sedang dilakukan penulis sekarang ini :( , hanya saja ia tak mengharapkan apa-apa dari tulisan ini)

Padahal kita sudah sama-sama tahu bahwa setiap orang di sudut negeri ini percaya keadaan kita sudah sangat kompleks dan susah untuk ditangani maka jangan menjanjikan apa-apa jika ragu-ragu untuk menepati. Pada dasarnya kami hanya ingin melihat satu bentuk kejujuran yang terdalam yang orang paling bejat sekalipun dapat melihatnya. Bentuk kejujuran yang berani dan khidmat, katakan yang benar, mengaku salah jika salah. Kami sadar, dan tidak akan memaksakan bentuk kejujuran sempurna yang diperlihatkan oleh Muhammad dahulu (yang membuat orang Jahiliah arab pra-Islam sekalipun menjulukinya sebagai "orang yang dapat dipercaya") karena semua orang tahu asal-usul dan track-record saudara-saudara sekalian. Dan kami sama sekali tidak mengharapkan bentuk pembelaan, omong kosong masa lalu, apalagi pembodohan rakyat yang merupakan kesalahan yang "tidak bisa dimaafkan".

Dan kami rakyat memang hanya bisa berkomentar saja, benar sekali. Cuap-cuap melihat semua ketidakberesan ini. Kami tahu bahwa kami juga kerap kali ingkar janji, mungkin karena alasan itulah kami tidak mencalonkan diri untuk menjadi apa-apa.

..........

Maka di Saat-saat genting seperti ini, keterasingan adalah salah satu jawaban, meskipun tidak selalu menjadi solusi terbaik, setidaknya bisa menjaga pikiran tetap steril dari campuran berbagai informasi yang dipaksakan. (kita setiap saat disuapi dengan berbagai kata-kata, paradigma, doktrin, dan informasi-informasi lain yang tidak bertaggung jawab dan pada suatu titik jenuh kita tidak akan kuasa untuk melawannya, setidaknya berteriak mengeluarkan umpatan yang tentu juga bersifat destruktif). Saat-saat seperti ini kesendirian mudah-mudahan mampu menghadirkan sebuah sudut pandang yang sama sekali berbeda. Berlari, berlarilah dari ikatan-ikatan manusia untuk sementara. Barangkali alam adalah bentuk "hidup" yang sederhana dan mudah untuk dicerna karena ia akan selalu bersifat alami, mengikuti hukum keseimbangan. Terlahir, tua, mati. Makan, dimakan. Bergerak, mengalir dalam alur. Terprediksi dan terkendali!! tidak seperti kebebasan manusia yang kerap kali diselewengkan menjadi sebuah chaos yang tak terkendali.
kalau saja hening itu berucap ramai, mungkin saja aku tidak akan pernah hadir, dalam mimpi- mimpimu dan mendendangkan syair, agar kamu tertidur.”

Ketika kita berbicara—mengingat-ingat tentang sesuatu yang asing—yang rasanya tidak pernah terjadi di kehidupan kita namun terjadi di kehidupan orang lain, mungkin kita selalu membayangkan ‘kok ada orang yang melakukan atau bersifat seperti itu. Kehidupannya yang selalu dipenuhi misteri’. Misalnya, dapat dicontohkan, ada orang yang kebiasaannya selalu berdiam diri di tempat sepi; kuburan misalnya, atau dalam kehidupan sehari-hari ada orang yang melakukan segala sesuatu kebutuhannya dengan tangannya sendiri. Hanya kadang-kadang saja berkomunikasi dengan orang lain dan itupun hanya bersifat seputar pertanyaan, perintah atau jawaban yang super singkat.

Pernah suatu ketika, saya berjalan menyusuri sebuah komplek pekuburan. Entah mengapa, rasanya kepala ini harus selalu menengok ke kiri dan ke kanan dan tanpa sengaja melihat bentuk-bentuk kuburan—rumah orang-orang setelah mati yang ada disitu—mungkin, (nanti) kita juga akan memilikinya. Macam-macam kondisi dari kuburan-kuburan itu; ada yang nisannya sudah tidak terbaca—bahkan nisannya hilang—dindingnya yang sudah berlumut—atau sudah menjadi semak belukar karena tidak ada yang merawat lagi, tapi tetap saja ada yang tetap berpenampilan bersih—necis, dindingnya yang berbatu pualam bahkan dibuatkan atap supaya tidak kena panas atau hujan dan tentu saja selalu ada penghuni baru—tanah yang mungkin baru beberapa hari itu dibalunkan—saya tidak tahu pasti, yang jelas bunga-bunga orang mati yang tertabur begitu saja diatasnya masih tercium wangi—menyengat menyentil hidung hingga menghantarkan sesuatu rasa yang ganjil mengalir ke ubun-ubun dan menyebabkan tubuh sedikit bergidik. Memang, suasana kuburan selalu saja menciptakan keheningan yang tidak biasa. Oh ya, walaupun hari itu masih siang, namun karena lokasi pekuburan itu ditumbuhi oleh rumpun-rumpun bambu, menjadikan suasana itu begitu mistis, sehingga cahaya matahari enggan masuk memberi cahayanya kepada para penghuni apalagi yang terbaring di komplek ini.

Suasana itu ditingkahi pula oleh cericit burung-burung yang tidak kelihatan wujudnya—mungkin mereka berlompatan di setiap dahan pohon tinggi yang juga banyak tumbuh di areal komplek “perumahan” ini. Bagi saya, cericit-cericit mereka, seperti dendang selamat datang, dan jingkat-jingkat mereka dari satu pohon ke pohon lainnya seperti tarian penyambutan—dan mungkin saja mereka membentangkan sayapnya seperti hendak merangkul saya, dan mengucapkan ‘selamat datang di komplek perumahan kami’. Persis seperti seorang gubernur yang kedatangan seorang presiden—Apapun dilakukan, agar tamunya senang.

Selentingan kabar mengatakan komplek perumahan orang mati ini sangat angker. Penampakan-penampakan sering terjadi. Kebanyakan mereka yang menampakkan dirinya itu, matinya tidak normal—ada yang dibunuh, ada yang mati gara-gara utangnya menumpuk bahkan ada juga yang mati karena hartanya yang sangat banyak. Dan, seperti biasanya, cerita-cerita mistis seperti munculnya pocong, sundal bolong, genderuwo dan apalah lagi namanya begitu dipercayai masyarakat pada umumnya. Sehingga saya sendiri merasa heran, mengapa bangsa ini terlalu percaya dengan hal-hal yang tidak rasional seperti itu. Mungkin, yang ada ketika sebuah mayat telah masuk liang kubur, cacing-cacing dan semua penghuni koloni tanah siap berpesta menyantap hidangan lezat—daging busuk yang telah ditunggu-tunggu—‘siapkan sendok dan garpu’ mungkin begitulah perintah sang ratu semut—salah satu penghuni tanah dan tak kalah sigapnya dengan belatung yang sudah menyiapkan pisau-pisau tajamnya untuk menyayat kecil potongan-potongan daging busuk dan disantap beramai-ramai. itulah masyarakat Indonesia, yang dari Sabang hingga Merauke tidak pernah lepas dari kepercayaan klenik dan menomorduakan kuasa Tuhan—Allah SWT. Pantas saja, banyak bencana yang terjadi menimpa diri bangsa Indonesia—Nusantara.

Suasana kuburan, seperti menciptakan dunia hiruk pikuknya sendiri—menciptakan ‘pasarnya’ sendiri—dalam diam tentu saja. Tidak ada suara kecuali suara burung, suara jangkrik, kadang-kadang suara pacul yang sahut-sahutan bertemu dengan tanah dan batu-batu kerikil kadang sebongkah yang agak besar, atau decak canda para penggali kuburan, sekedar mencurahkan keluh kesahnya bagaimana deritanya menjadi arsitek rumah mati—kuburan. Mereka hidup dari pengharapannya kepada orang yang baru mati, atau sesekali isak tangis yang mengalun dari orang-orang yang ditinggalkan pergi oleh orang mati atau juga gunjingan yang datang dari para pelayat yang asing dan jijik melihat kematian si fulan yang penuh dengan ulat dan belatung di sekujur tubuhnya.

Ini dunia asing! Dunia yang senantiasa menanggapi suasana apapun dengan diam—dengan hening—dengan mengasingkan diri. Bahkan mayat-mayat itu sekalipun yang hanya bisa sabar mendengar gunjing dan cibiran yang mengalir dari tetangga-tetangganya yang mungkin dulu menghormatinya. Namun, di dalam keterasingan—dalam keheningan itulah kita bisa bercengkrama leluasa dengan Tuhan, atau hanya sekedar merenungi nasib yang tidak kunjung berpihak.

Begitulah keterasingan. ‘Mengapa kita harus benci diasingkan?’ Atau, ‘mengapa kita yang harus menjadi pelaku dalam upaya mengasingkan orang lain?’ Atau juga ‘mengapa kita harus selalu bertanya tentang hal-hal yang membuat orang mengasingkan atau diasingkan?’ Toh, pada kehidupan setelah mati—di alam kubur, atau di padang Mahsyar kita pun akan berjalan sendiri-sendiri bukan? Setiap pertanyaan Tuhan pun akan dijawab per-individu, bukan komunal. Jadi, mengapa harus takut dengan keterasingan?

Mengasingkan atau terasingkan dari hidup adalah salah satu pilihan yang mau tidak mau harus kita pilih salah satu—atau kedua-duanya. Ingat, di dunia ini, tidak ada yang tidak mungkin bukan? Karena, keterasingan hidup adalah pilihan, maka kita pun patut untuk menghormati orang-orang yang memilih jalan tersebut. Ini mungkin merupakan bagian dari salah satu cita-cita demokrasi yang menempatkan perbedaan bukanlah suatu permasalahan yang harus dianggap penting. Justru ketika kita diseragamkan—mungkin dengan nilai-nilai tertentu, hal inilah yang kerap menimbulkan suatu masalah. Maka, kita pun menjadi seperti robot, yang mudah dikendalikan akibat penyeragaman tadi. Dan akhirnya kita harus mengakui bahwa keterasingan merupakan sebuah hak asasi yang dimiliki manusia, sejajar dengan hak-hak manusia lainnya.

keterasingan

engkau dari sekian banyak yang terpencil oleh sebuah keterasingan
mungkin pulau karang di tengah2 samudera
raflesia di dalam rimba belantara
putri malu di puncak gunung jaya wijaya
atau sekeping kayu terapung di atas air
bahkan seorang musyafir kelana di tengah2 gurun sahara
keterasingan membuatmu kesepian diantara keramaian
meski hidupmu di sekelilingi teman dan saudara
nafasmu adalah kesunyian
mengalirkan darah2 kerinduan ke seluruh tubuh yang penuh luka
kau ccoba menahan rasa
mencari sahabat dari nuansa semesta
menjadikan saudara di setiap duka dan nestafa
semua memaksa menyembunyikan pedih dan perih
semua membalut luka di tubuhmu
memaksamu memendam rindu
menawarkan keindahan di balik keresahan hatimu
hingga angin2 penderitaan dan kabut2kabut kesunyian memerbangkan jiwa dari belantara kehampaan hati menuju luasnya samudera yang penuh arti
saat itulah sinar matahari mnyulap keteduhan airnya
menjadi hamparan permadani emas berendakan mutiara indah
bertaburan jamrud dan permata dihiasi kapal2 syukur dan skoci iztihad untuk pelayaran hatimu menujnmu dermaga kebahagiaan jiwa yang abadi

KESENDIRIAN

Bosan dan Jenuh dengan Keramaian
Sedikit Menepi dalam menata hati sunyi
Canda, teriakan, Kebosanan, penderitaan
Mencari sejati diri dalam sebuah sepi

Kita hidup dalam ruang lingkup yang ramai, di kantor, di Jalan, Di pasar, dan ditempat-tempat lain di dunia ini, Jakarta dan kota besar lainya menawarkan keramaian yang tak pernah berhenti, dan dalam keramaian mungkin kita kehilangan waktu untuk sendiri, yang menyegarkan nurani yang penat oleh hiruk pikuk Duniawi.

Kesunyian yang lahir karena kesendirian dari rahim ketenangan hati. Ia begitu bernilai, bagai mata air yang menengok di tanah tandus pekarangan kita. Sementara yang lain, masih berjibaku dengan dahaga dan teriknya kekeringan. itulah sebuah anugrah yang banyak orang menampikanya, ketika kita bisa menyendiri bukan untuk bengong atau melakukan hal yang tidak baik kita membutuhkan waktu untuk sendiri untuk memikirkan ide-ide besar, untuk merenungi kesalahan-kesalahan kita, sangat banyak ide besar muncul dalam sautu kesendirian dalam merenung

Tak luput manusia butuh waktu untuk sendiri dalam kesunyian untuk mendekatkan diri kepada sang kuasa yang telah menciptakan manusia, kesunyian Menjaga mata agar tak sepenuhnya menutup, di waktu pilihanNya untuk menepi merasakan isyarat pada detik penuh keagungan kepunyaanNya.

Tanpa kita sadari banyak dari kita tak tahu diri sendiri, tidak kenal siapa dirinya, banyak dari kita menjalani hidup dengan berjalan tanpa sadar apa makna dari hidup dan tujuanya, dan banyak dari kita menggunakan Topeng-topeng semu yang selalu kita banggakan, benarkah itu diri kita yang sesungguhnya?, manusia banyak tidak percaya pada wajah aslinya dan selalu mengganti topeng sesuai dengan keadaan di sekitarnya sadarkah siapa kita?

Beribu bahkan berjuta topeng manusia penggunakan, ada topeng kemunafikan, ada topeng penjilat ketika berhadapan dengan atasnya kita, sadarilah inilah kenyataan hidup kita, suka atau tidak suka itulah yang kita kenakan topeng-topeng yang selalu berganti-ganti yang sering mempengaruhi nurani hati. Tak banyak yang menyadari. Hingga ratusan kali pengalaman semacam itu menyuapi sebagian yang lain. Sehingga, mereka kehilangan jati diri, siapa kita sebenarnya, jutaan topeng berubah-ubah wujud demi menyelamatkan diri dari kerasnya hidup dalam dunia dunia.

Kembali dalam sepi, dengarkan lah jeritan hati yang menangis mengetahui kita menggunakan seribu topeng, mugik kita memiliki seribu kepribadian dalam seribu balutan topeng sesungguhnya, hanya dalam sepi tanpa ada satu mahluk pun yang mengetahui kita bisa melepaskan diri dari beribu topeng, dari kelelahan dalam semua kepalsuan. dalam sepi ini cobalah kembali menjadi diri sendiri tanpa balutan topeng yang ada.

Ya cari lah waktu untuk diri sendiri dalam sepi, menjadi jujur dalam sepi memang tampak mudah, tapi hal itu tak akan pernah menjadi mudah, kecuali kita bisa memulainya, belajar dalam sepi untuk jujur dan menjadi diri sendiri bukan menjadi dia, atau mereka, jadilah anda sendiri. ketuklah diri temuakan sebuah kerinduan kembalinya hati kita pada pangkuanNya. Saat Titik rintik air menetes dari matamu, dan jujurlah dalam kesendirian. Karena kesendirian akan membisikan dan membuka topeng diri.
dan jadilah dirimu yang sejati seperti dalam sendiri

KESENDIRIAN

Kesendirian

Kesendirian

Posted using ShareThis